Tuesday, May 17, 2011

00:09

Hujan membasahi bumi
Bawa kesegaran dalam gundah ini
Hapus semua kedukaan yang pekat menyelimuti
Jiwa yang menghamba

Dan sujud pada-Mu
Tuk harap limpah ampunan
Dalam doa ini

Sesejuk angin yang berhembus
Kala tersadar limpah kasih-Mu
Tumbuhkan benih syukurku
Ya allah yang maha pengasih
Bimbinglah jalan hidupku
Tuk selalu tuju pada keridhoan-Mu

Syukur HambaMu~Gradasi

Thursday, April 28, 2011

kata Allah tentang peramalan

dalam link tersebut sang peramal pun mengungkapkan tentang kemampuan melihat masa depan karena... cekidot-> http://www.sapu-lidi.com/ramalan-perang-dunia-3-nostradamus-dan-mama-lauren/

Seakan telah menjadi tradisi rutinitas di masyarakat Indonesia, praktik ramal-meramal di akhir tahun atau menjelang pergantian tahun. Berbagai media massa, baik daerah maupun nasional berlomba-lomba menyajikan menu ramalan tahunan. Tidak hanya peramal lokal yang mereka wawancarai sebagai pemateri, peramal mancanegara juga tak luput dari kejaran mereka. Media elektronik lebih fulgar lagi, yaitu dengan mengahadirkan peramal langsung untuk meramal dan berdialog interaktif dengan para pemirsanya.

Ada yang tidak percaya begitu saja terhadap hasil ramalan, dan banyak yang percaya seratus persen akan kehebatan peramal dan akurasi ramalannya. Ada yang menganggap praktik ramal meramal sekadar iseng, tapi yang menganggap serius lebih banyak. Biasanya host atau si pembawa acara dan juga peramalnya, membuka dialog dengan pernyataan klasik: “Ini sekadar ramalan, boleh percaya dan boleh tidak percaya”. Atau: “Kami tidak bisa merubah nasib Anda, Anda sendiri yang bisa merubah nasib Anda.” Atau: “Kami hanya berusaha membantu Anda, Tuhanlah yang menentukan segalanya”. Itu hanyalah lipstik yang mengecoh orang awam.

Mereka pikir dengan pernyataan seperti itu atau yang sejenisnya, bisa mensucikan diri mereka dan para penggila ramalan bisa bersih dari dosa, akidah tauhid yang sudah rusak bisa diperbaiki. Dan Allah tidak akan menghukum perbuatan mereka, baik si peramal, yang minta diramal atau yang percaya pada ramalan. Tidak…, sekali lagi, tidak. Praktik ramal meramal adalah perbuatan terlarang dan bisa merusak akidah kita pada Allah yang Maha Esa.

Ramalan 2010
Tahun 2010 ini juga tak luput dari praktik ramal-meramal. Para peramal kenamaan negri ini telah menyiarkan hasil ramalan mereka. Di dunia maya misalnya, Permadi meramalkan bahwa Prabowo Subianto akan menjadi Presiden pada tahun 2010, seperti yang dirilis. Mama Lauren meramalkan di 2010 sebuah virus influenza jenis baru akan datang pada bulan Maret-April 2010 dan bakal menelan lebih banyak korban [detikHealth]. Ki Kusumo juga menyebutkan kejahatan akan meningkat. Angka kriminalitas terus merangkak naik. Korupsi, kolusi, skandal seks, hingga jual beli kasus hukum justru laris manis. Peramal Jucelino Nobrega da Luz asal Brasil, meramalkan: Temperatur beberapa negara Afrika kemungkinan besar meningkat hingga 58° Celcius, bersamaan itu terjadi kekurangan air bersih yang parah. Tanggal 15 Juni pasar saham di New York bakal runtuh, ekonomi dunia akan memasuki kondisi krisis.Suhu di Afrika bisa mencapai 58° Celcius. Peramal Vanga dari Bulgaria yang memiliki nama asli Vangelia Gushterova, meramalkan tahun 2010 akan terjadi perang dunia ke-3, Eropa akan musnah.

Bahaya Percaya Ramalan
Percaya pada ramalan memang tidak boleh, alias haram hukumnya. Bukan boleh percaya boleh tidak. Terlepas dari apakah ramalan itu nanti terbukti atau tidak. Datang ke peramal saja tidak boleh hukumnya, baik itu datang seara langsung, menghubunginya via telephon, handphon, email atau sms. Apalagi bertanya atau konsultasi tentang nasib atau perjalanan hidup di masa mendatang, shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari, 40 malam seperti yang ditegaskan rasulullah dalam hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad. Lalu kalau dia membenarkan apa kata peramal dan mengikutinya, maka ia telah kufur pada al-Qur’an dan al-Hadits, seperti yang dijelaskan dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad.

Imran bin Hushain berkata, Rasulullah bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur (meramal nasib lewat gerakan burung) atau minta dilakukan tathayyur untuk dirinya, berpraktik perdukunan atau minta bantuan dukun, berpraktik sihir atau memanfaatkan jasa mereka. Barang siapa mendatangi dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad (al-Qur’an dan al-Hadits).” (HR. al-Bazzar. Imam al-Haitsami menyatakan bahwa perawinya shahih. Kitab Majma’uz Zawaid: 5/ 117).

Abu Musa berkata, Rasulullah bersabda, “Ada tiga sosok ysng tidak akan masuk surga. Yaitu; pecandu arak (khamr), pemutus tali silaturrahim, dan orang yan percaya pada ramalan.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim dan dinyatakan shahih).

Menurut Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Yang dimaksud dengan kalimat ‘Mushaddiqun bi sihri’ dalam hadits tersebut, adalah orang yang percaya terhadap ramalan peramal. Karena dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa belajar ilmu perbintangan, sedikit banyaknya ia telah belajar bagian dari ilmu sihir’ (HR. Abu Daud dan dishahihkan Imam Nawawi). (Kitab al-Qoulul Mufid: 2/ 111).

Peramal dan Jin
Keberadaan peramal sangat erat hubungannya dengan peran jin [syetan]. Hubungan keduanya adalah hubungan yang saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme. Peramal merasa diuntungkan dengan pasokan data atau info yang disampaikan jin, sehingga ia dapat berita yang tidak dapatkan manusia lain. Yang akhirnya tekesan kehebatannya akan hal-hal yang ghaib. Sementara jin diuntungkan dengan keberadaan peramal yang bisa jadi agen mereka untuk merusak akidah para hamba Allah. Dalam misi penyesatan dan pengrusakan akidah, syetan telah diwakili peramal dalam merealisasikan misi tersebut. Maka kloplah jadinya.

A’isyah -radhiyallahu ‘anha- berkata, “Ada sekelompok orang bertanya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tentang dukun (paramal). Beliau bersabda, “Mereka tidak ada apa-apanya”. Ada sahabat yang bertanya,”Wahai Rasulullah, mereka terkadang meramalkan sesuatu yang kemudian betul-betul terjadi? Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menjawab,” Itu adalah kebenaran yang dicuri oleh jin (dari langit), lalu dibisikkan kepada wali-walinya (para peramal), tapi kebenaran itu telah dicampur dengan seratus kebohongan”. [HR. Al Bukhariy dalam Shohih-nya (5762), Muslim (2228)].

Yang Terjadi Kehendak Allah
Banyak orang yang percaya kepada hasil ramal-meramal akhirnya terpeleset akidahnya. Jika ramalan peramal itu terbukti atau terjadi, mereka semakin yakin akan kehebatan sang peramal dan makin percaya akan akurasi ramalannya. Mereka menganggap bahwa peristiwa itu terjadi sesuai dengan yang diramalkan. Media massa pun akan memblow-upnya secara besar-besaran, sehingga sang peramal makin terkenal. Tapi kalau ramalannya meleset, masyarakat bungkam, diam seribu bahasa. Begitu juga media massa. Paling-paling mereka berkomentar, “Namanya juga ramalan, bisa benar bisa salah, peramal kan manusia juga.” Padahal semua yang telah dikehendaki Allah, pasti akan terjadi. Meskipun tanpa diramal sebelumnya.

Esok Rahasia Allah
Allah telah menegaskan, “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dilakukan besok.” (QS. Luqman: 34).Dan dalam haditsnya, Rasulullah juga mengabarkan bahwa peramal itu tidak ada apa-apanya, sama seperti kita semua. Seandainya apa yang diramalkan itu betul-betul terjadi, itu adalah berita kebenaran yang telah dicuri jin dari langit, lalu dibisikkan ke telinga peramal atau dukun, yang sebelumnya dicampur dengan seratus kebohongan. Makanya bualan peramal banyak bohongnya daripada benarnya. Masak, kita lebih percaya omongan peramal daripada firman Allah dan hadits Rasul-Nya.

Amir bin Masruq berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, ‘Wahai Ibuku, apakah Rasulullah pernah melihat Allah langsung? Dia menjawab, ‘Pertanyanmu itu membuat bulu kudukku merinding. Apakah kamu tidak tahu akan tiga hal. Barangsiapa yang membicarakannya berarti ia telah berdusta. (Di antaranya, red), “Siapa bilang bahwa Rasulullah mengetahui apa yang terjadi besok, maka ia telah berdusta. Lalu dia membaca ayat, “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dilakukan besok.” (QS. Luqman: 34).” (HR. Bukhari).

Tingalkan Ramalan
Kepada peramal, dimana pun Anda berada. Sampai kapan Anda bisa bertahan hidup dari hasil ramalan? Anda sendiri tidak rahu, kapan ajal Anda datang? Kalau Anda mengaku sebagai seorang muslim, segeralah berhenti dan bertaubat. Masih banyak profesi lain yang halal untuk menghidupi keluarga kita. Semakin banyak orang yang percaya kepada ramalan Anda, maka semakin banyak pula dosa yang Anda dapatkan.

Kepada para pengguna jasa ramalan. Segeralah berhenti. Sebelum Allah mengakhiri hidup Anda, dan Allah bertanya tentang apa yang telah Anda lakukan di dunia. Jangan sepelekan dosa syirik, karena dosa itulah yang mengantarkan banyak orang ke neraka. Lantaran Allah tidak akan menampuninya. Gunakanlah HP dan pulsa yang Anda miliki untuk hal yang bermanfaat bagi dunia dan agama demi kehidupan akhirat yang abadi.

Bagi yang sudah kecanduan dengan ramalan, masih ada kesempatan untuk bertaubat. Sebelum terlambat dan pintu taubat tertutup. Seberapa pun banyaknya dosa kita, Allah akan mengampuninya jika kita betul-betul bertaubat kepada-Nya. Termasuk dosa syirik. Tapi kalau kita biarkan dosa itu sampai ajal tiba, maka dosa akan menjadi tiket dan kunci pembuka pintu neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Nasihat Ali bin Thalib
Kepada para pecandu jasa ramalan, baik yang ia SMS atau via media lain, atau langsun ke peramalnya. Simaklah nasihat Ali bin Abi Thalib radhiyalloohu’anhu:

“Wahai manusia, sesungguhnya peramal itu sama dengan tukang sihir, tukang sihir sama dengan dukun, dan dukun nasibnya sama dengan orang kafir, yaitu neraka sebagai tempatnya. Demi Allah, jika aku mendengar kamu menggunakan jasa ramalan, niscaya aku akan memenjarakanmu selamanya, dan aku boikot kebutuhanmu. Rasulullah tidak pernah memakai jasa peramal, begitu juga kami sebagai generasi setelahnya. Meskipun begitu, Allah telah memberi kemenangan kepada kami atas Kisra (Persi) dan Kaisar (Rumawi) serta negeri-negeri lain. Wahai manusia, bertawakkallah kalian kepada Allah dan percayalah akan kebesaran-Nya. Karena Dia akan mem-beckup-mu, sehingga kamu tidak perlu yan laini-Nya. ” (Kitab al-‘Azhomah: 4/ 1231, dan Kitab al-‘Azhomah: 4/ 1231).

Perkuat Tawakkal
Jika kita mengaku sebagai seorang mukmin, marilah kita pupuk rasa tawakkal kita kepada Allah. karena tawakkal itu sebagai bukti iman kita yan sebenarnya, “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar sebagai orang yang beriman.” (QS. al-Maidah: 23). Semakin kuat iman seseorang, maka semakin kokoh tawakkalnya kepada Allah.

Tawakkal kita kepada Allah tidak boleh menafikan usaha dan ikhtiar. Kita diperintahkan oleh Allah untuk berusaha untuk meraih sukses hidup dengan maksimal. Hidup harus kita rencanakan, agenda harus kita susun, langkah harus kita planning sebaik mungkin. Datang ke peramal untuk menguak tabir nasib di masa depan termasuk ikhtiar yang dilarang syariat. Karena itu bisa mencederai, bahkan menafikan tawakkal kita kepada Allah. Cepat atau lambat, sadar atau tidak. Kita akan bertawakkal kepada peramal dan hasil ramalannya.

Jaga sikap tawakkal kita agar syetan tidak mudah menyetir dan mempermainkan hidup kita. Karena tawakkal kepada Allah secara benar akan menjadi benteng yang kokoh untuk mengahalau tipudaya syetan. “Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaanya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaan (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya sebaai pemimpin dan atas orang-oran yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. an-Nahl: 99-100).

Penutup
Perjalanan hidup kita telah ditentukan oleh Allah sejak kita berumur 120 hari dalam rahim ibu. Begitu juga alur perputaran dunia dan berlangsungnya kehidupan makhluk di dalamnya. Semuanya dalam aturan dan kekuasaan Allah.

Dengan begitu, keberadaan peramal atau hasil ramalan akan sia-sia belaka. Karena apa yang telah ditakdirkan oleh Allah akan terjadi sebagaimana kehendak-Nya. Peramal manapun dan sehebat apapun akurasi ramalannya, tidak akan bisa menghentikan alur takdir, apalagi menggantinya. Justru ramalan yang ada malah jadi bumerang bagi pikiran dan psikologi kita. Kalau buruk, jadi beban pikiran, padahal belum tentu terjadi. Kalau baik, jadi pengharapan. Jika realitanya meleset, maka ia akan stress dan tidak bisa menerima kenyataan. Ramalan memang tak ada faedahnya.

Thursday, April 21, 2011

Sulit Ingat Nama Orang?

VIVAnews - Baru saja berkenalan. Belum ada sepuluh menit berlalu. Tapi, sudah lupa nama orang itu. Apakah 'penyakit' ini kerap menimpa Anda?

Bisa mengingat nama orang penting demi membina relasi yang baik di masa datang. Agar terhindar serangan 'penyakit' itu, ikuti tips berikut, seperti dikutip dari laman galtime.com:

1. Ulangi namanya
Saat lawan bicara menyebut namanya, ada baiknya Anda ulangi kembali, misalnya, “Senang bertemu dengan Anda, David”, atau “Maaf, nama belakang Anda siapa?”. Cara ini bisa membantu Anda mendaftarkan nama baru di memori otak dengan lebih baik.

2. Ajukan pertanyaan atau komentar
Misalnya, mengaitkan namanya dengan kemiripan nama atau hal-hal yang sering Anda jumpai. Bisa artis, teman, anggota keluarga, atau komentar lainnya.

3. Mintalah mengeja namanya
Misalnya, “O... Hengky, ‘ie’ atau ‘y’?”

4. Mengasosiasi nama dengan gambar
Jika Anda bertemu dengan seorang CEO bernama Arthur, mungkin Anda bisa bayangkan dia sebagai King Arthur. Beberapa orang suka teknik ini, beberapa juga mengaku kebingungan. Gunakanlah jika memang benar-benar membantu.

5. Tanyakan sejarah namanya
Misalnya, “Oh, Lia Novita, ultahnya bulan November ya?”

6. Beritahu apa yang Anda dengar tentang nya
Misalnya, “Aku dengar Anda yang menyelenggarakan acara ini ya, Rudi?”

7. Menjaga tingkat energi
Kalau Anda tidak bisa konsentrasi dan benar-benar memperhatikannya, kemungkinan sulit mengingat namanya akan sangat besar.

8. Mengucapkan namanya setelah pergi
Misalnya, “Sampai ketemu di lain waktu ya, Jen.”

9. Menangani lupa dengan memperkenalkan diri
Mengeluh sulit mengingat nama orang membuat Anda tidak anggun. Sebaiknya, mintalah ia mengingatkan Anda dengan cara sopan di perjumpaan kedua. Misalnya, “Aku ingat kita pernah bertemu di Bandung. Aku Sarah Ansari. Maaf, bisa kasih tahu lagi namamu siapa?"

Laporan: Suwito Wu

Friday, April 15, 2011

Nowplaying. IBU

Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beri ku penerangan
Selembut citra kasihmu kan
Selalu ku rasa dalam suka dan duka

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Bagaikan embun kesejukan hati ini
Dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
lyricsalls.blogspot.com
Pengorbananmu sungguh sangat berarti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Monday, March 28, 2011

cobacobacobacoba

Menulis di Media Cetak Indonesia (1)
Bagi siapa saja yg berminat mengirim tulisan ke media cetak (koran/majalah), maka berikut sedikit tips dari saya:

1. Panjang tulisan antara 700 sampai 1000 kata *. cara melihat jumlah kata: MS WORD –> tools–> wordcount —> words

2. Kirim ke media via email dalam bentuk MS WORDS via attachment.

Alamat email2 media cetak sebagai berikut:

Media Nasional:

1. Republika:
Redaksi : redaksi@republika.co.id
Sekretariat Redaksi : sekretariat@republika.co.id
Webmaster ROL : webmaster@republika.co.id

2. Kompas:
(1) opini@kompas.com
(2) opini@kompas.co.id
(3)kompas@kompas.com

3. Media Indonesia
redaksi@mediaindonesia.co.id

4. Suara Pembaruan
koransp@suarapembaruan.com
opinisp@suarapembaruan.com

1.
Sinar Harapan
(1)redaksi@sinarharapan.co.id
(2)info@sinarharapan.co.id

2.
6. Harian Pelita
hupelita@indo.net.id

3.
7. Jawa Pos
(1) editor@jawapos.com
(2) editor@jawapos.co.id

4.
8. Suara Karya
redaksi@suarakarya-online.com

9. Koran Tempo
ndewanto@mail.tempo.co.id

10. Majalah Tempo
hidayat@mail.tempo.co.id

Media Daerah Sumatera

1. Waspada (Medan)
(1) redaksi@waspada.co.id
(2) waspada@waspada.co.id

2. SIB - Suara Indonesia Baru (Medan)
redaksi@hariansib.com

3. Batam Pos
redaksi@harianbatampos.com

4. Serambi Indonesia (Aceh)
(1) redaksi@serambinews.com
(2) serambi_indonesia@yahoo.com

5. Sriwijaya Post (Palembang)
(1) sripo@persda.co.id
(2) sripo@mdp.net.id

Media Daerah Jawa

1. Pikiran Rakyat (Jawa Barat)

beritapr@yahoo.com
berita@pikiran-rakyat.com
redaksi@pikiran-rakyat.com
info@pikiran-rakyat.com

2. Suara Merdeka (Jawa Tengah)
redaksi@suaramer.famili.com

3. Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta)
redaksi@kr.co.id

4. Koran Bernas (Yogyakarta)
koranbernas@yahoo.com

5. Harian Surya (Jawa Timur)
surya1@padinet.com

6. Harian Duta Masyarakat (Jawa Timur)
dumas@sby.centrin.net.id

7. Surabaya Post (Jawa Timur)
redaksi@surabayapost.info
admin@surabayapost.info

Media Daerah Bali

1. Bali Post
balipost@indo.net.id

Media Daerah Kalimantan

1. Banjarmasin Post
banjarmasin_post@persda.co.id
bpostmania@telkom.net

2. Pontianak Pos
redaksi@pontianakpos.co.id

Media Daerah Sulawesi

1.Harian Fajar (Makassar)
fajar@fajar.co.id

Jadi, setelah Anda selesai menulis di MS WORD sebanyak 700 - 1000 kata, maka kirimkan ke media yg dituju melalui email mereka. Sekali lagi, artikel dikirim via attachment. Dan jangan lupa tulis di subject email
sbb: “Artikel Opini: ” [judul tulisan anda di sini…]

Langkah pertama, cobalah menulis ke koran, bukan majalah. Karena kolom di majalah biasanya pesanan dari redaksi; biasanya diisi penulis yg sudah beken seperti Rizqon Khamami.

Catatan:

1. Email redaksi sejumlah harian/koran Indonesia di atas adalah email media cetak. Sedangkan email media online seperti detik.com, dll tidak termasuk di sini.

2. Perlu diketahui bahwa tulisan kita yang dimuat di media cetak, akan otomatis dimuat di website mereka masing-masing. Artinya, kalau tulisan kita tampil di website koran bersangkutan berarti dimuat di media cetaknya. Memang koran seperti Waspada (Medan) dan Riau Pos (Riau) pernah memiliki dua edisi online dan offline (cetak), tapi sekarang sudah tidak lagi. Ini untuk menjawab pertanyaan Rahmatsyah Rangkuti yang agak bingung soal ini.

3. Jangan pernah mengirim satu tulisan pada dua koran nasional atau dua koran yang satu daerah dalam waktu bersamaan. Karena kalau sama-sama dimuat di kedua koran tsb. kita akan mendapat sangsi berupa tulisan kita tidak akan lagi dimuat di keduanya. Akan tetapi, kalau dikirim pada dua koran yang lain segmennya, seperti ke koran nasional dan koran daerah itu tidak apa-apa walaupun seandainya sama-sama dimuat.

NOTE : COPY PASTE DARI
http://fordisastra.com

Sunday, March 27, 2011

senang ^_^

waw juara 2. hampir tidak percaya. hm, kemenangan terbesar adalah saat aku bisa mengalahkan ego ku. Rasa enggan mengikuti lomba kerap kali menyeruak. Tapi kali ini aku berhasil melawan itu. Rasa malas yang harus dibunuh, dan aku berhasil. :) ini untuk pertama kalinya aku berpartisipasi dalam lomba menulis essay. semoga untuk seterusnya dan bukan untuk kali ini saja. malas lekas pergi jauh2 dariku~

Wednesday, March 23, 2011

Pemuda Itu Aku

Aku ingin mengubah dunia. Bagaimana bisa? Ya, cita-citaku adalah ingin mengubah dunia dengan pena. Dari sinilah aku memulainya, menulis dan bercerita. Berbagi tentang apa yang aku pikirkan.
Pagi ini, burung menari ramai, embun segar masih menyeruak. Hari ini aku pun masih bermimpi. Tentang diriku, tentang keluargaku, tentang tetanggaku, tentang masyarakat luas, dan tentang Negaraku tercinta, Indonesia. Semua itu tentang harapan yang membumbung tinggi.
Sebelumnya, pernahkah kamu bertemu dengan sosok penuh asa, segar, kreatif, sumber ide cemerlang, unggul, pilihan, bergairah, bergelora secara fisik, psikis, intelektual, serta yang paling penting dan menjadi sorotan adalah sikapnya. Tepat, ialah pemuda. Sosok yang bisa menjadi terdepan jika dipoles dengan kebaikan. Sebaliknya, bisa menjadi penjahat ulung jika dipoles dengan keburukan. Dalam berbangsa dan bernegara, pundak pemudalah yang menjadi tumpuan dan harapan. Merupakan rahasia yang tak terbantahkan bahwa diantara prasyarat tegaknya suatu pemikiran pergerakan dan jayanya sebuah peradaban nasional adalah dukungan para pemuda yang memperjuangkannya. Sejarah pun mencatat pemuda sebagai pengibar panji kemenangan. Katakan, "Akulah pemuda itu!" untuk setiap hal positif yang ada pada diri pemuda. Karena, apa yang kamu pikirkan tentang dirimu, seperti itulah kamu akan terbentuk. Terdengar sederhana, tapi itulah adanya.
Pemuda dan perubahan, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kalau dulu diberi tugas oleh guru, kita menyebutnya PR. Izinkan di sini ku menyebutnya sebagai "PB", Pekerjaan Bersama. Karena energi penyelesaian dapat dihasilkan dengan bersinergi. Langkah awal untuk bergerak adalah memastikan bahwa diri kita adalah bagian dari batu-bata peradaban. Dilanjutkan dengan mencanangkan visi, misi, serta pembagian peran dalam kehidupan, selanjutnya masing-masing tinggal menjalankan peran sebaik mungkin dengan menjadi teladan. Jika pembagian peran itu dapat bersinergi dengan baik dalam masyarakat, maka indahlah yang terjadi. Dan lagi, semua itu terdengar sederhana, begitulah nyatanya. Akan tetapi, apakah teori sederhana itu sudah teraplikasikan dengan baik?
Dalam tulisan ini, aku bukan hendak meluapkan amarah tentang perilaku para pejabat yang acuh tak acuh, aku juga tidak hendak melarang mereka yang menghabiskan banyak uang untuk perjalanan dinasnya ke luar negeri, sungguh. Walau setiap membaca informasi tentang rencana renovasi gedung DPR yang super mewah tersebut rasanya sangat menyulut emosi, gemas! Karena sepertinya mereka hanya butuh suara kita pada saat pemilihan umum saja. Mereka tak butuh lagi suara-suara kita yang telah habis meneriakkan tentang rakyat yang kelaparan, tentang rakyat yang kehilangan pekerjaan, tentang meningkatnya angka pengangguran, tentang sekolah yang bagi sebagian orang hanya angan-angan, tentang pangan yang serba kekurangan, tentang kapan tegaknya keadilan. tentang gedung sekolah yang ambruk mencapai ratus ribuan. tentang anak-anak yang mati busung lapar dan kelaparan. tentang tidak teraksesnya kesehatan. Dan tentang tentang lainnya. Ditambah hari ini tentang bencana yang terus menerus berdatangan. Akan tetapi, sekali lagi, di sini aku hanya ingin berbagi.
Mengangkasanya merah putih kini tidak lagi diiringi syahdunya getaran nurani yang merindukan kemerdakaan sejati. Hormatnya pun tidak segagah pahlawan yang penuh peluh dan harapan. Mengapa? Berikut ini aku ingin berbagi tentang sebuah data yang menyerukkan lembar demi lembar sebagai pekerjaan bersama yang harus kita benahi. Dari sebuah data inilah kita dapat mengambil benang-benang kesimpulan untuk menyelesaikan pekerjaan bersama kita. Maka, biarkan data mengungkap fakta :
-Peristiwa di SMU II Cianjur, oktober 2005 di bulan ramadhan di kota yang masyarakatnya telah menetapkan syariat Islam sejak 26 Maret 2001. Bermula dari geger peristiwa 2 pelajar yg melakukan oral seks yang direkam pelajar lainnya dan diedarkan diantara pelajar pemilik hp beberapa hari menjelang lebaran. Kejadian tersebut menjadi awal terungkapnya 11 orang pelaku seks bebas bahkan ada yang biasa melacurkan dirinya dengan perantara guru biologi sebagai germonya. Hasil survey BKKBN thd 2.880 responden usia 15-24 th di 6 kota di Ja-Bar, mei 2002 hampir 40 persen responden pernah melakukan hubungan seksual pranikah.
-REPUBLIKA.CO.ID,PONOROGO--Mayoritas remaja di Kota Reog Ponorogo, Jawa Timur, diduga sudah pernah melakukan hubungan pranikah atau seks bebas, kata Ketua Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Ponorogo, Endang Retno Wulandari, Jumat. "Estimasi tersebut didasari hasil survei secara acak yang telah mereka lakukan selama enam bulan terakhir. Hasilnya, jumlah remaja putri yang pernah melakukan hubungan pranikah atau seks bebas mencapai kisaran 80 persen," katanya.
-Di bawah ini adalah beberapa fakta lama yang begsinggungan langsung dengan pemuda:
- Pikiran Rakyat 26 Mei 2005 lalu, tercatat 200 mahasiswa Perguruan Tinggi Bandung, 50% nya telah melakukan hubungan seks sebelum pernikahan.
- Survey UNICEF, 30% dari 4159 penderita HIV/ AIDS di Indonesia adalah remaja 1252 orang.
- Survey UNICEF, 15-20% kasus aborsi di Indonesia 2,3 juta pertahun dilakukan oleh remaja : 460.000 rang pertahun. (Pikiran Rakyat, 10 Agustus 2004)
Apa yang bisa dilakukan oleh seorang remaja sebagai generasi penerus jika terlampau jauh bermain dengan api penghancur masa depan diri dan masa depan negara?
Kita beralih lagi dengan ‘PB’ selanjutnya. Persoalan yang sepertinya tak ada habisnya untuk dibahas. Yang membuat semua orang tercengang benci melihat kenyataan. Memang kenyataan yang membuat kita bisa melihat pemandangan kebobrokan moral, kemiskinan yang merajalela, ekonomi yang mencekik dan kriminalitas yang melejit di sekitar kita. Masalah apakah itu? seberapa pengaruhnya masalah tersebut terhadap nasib seluruh lapisan masyarakat Indonesia? Mari kita simak kembali data kekinian yang ada:
Hutang Indonesia Rp1.878 triliun :
14 Januari 2011 jam 19:36
Utang pemerintah diperkirakan mencapai Rp1.878 triliun atau meningkat dibandingkan posisi awal tahun ini yang hanya di kisaran Rp1.600 triliun. Beban rakyat pun untuk membayar utang makin berat. Ya, itu sudah dapat dipastikan. Semua ditumpahkan kepada warga Negara.
Utang tersebut terdiri dari pinjaman US$65,36 miliar dan surat berharga US$107,44 miliar. Dengan menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp5.981,37 triliun, maka rasio utang Indonesia hingga Januari 2010 mencapai 27%.
Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat sampai Januari 2010 adalah, bilateral US$40,55 miliar, multilateral US$21,43 miliar, komersial US$3,31 miliar, serta supplier US$ 60 juta.
Dengan demikian, utang luar negeri jadi beban rakyat yang sudah menderita. Karenanya utang mutlak harus dilakukan dan strategi pembangunan ekonomi harus diubah sehingga tidak selalu bergantung pada utang luar negeri.

Sumber : (inilah/mj)

Wow! data tersebut seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa 'PB' kita semakin nyata dan menusuk. Disaat kita tercengang dengan hutang yang tak berhujung, disisi lain banyak yang acuh, tak peduli, bahkan yang parah malah memperpuruk keadaan, salah satunya yang ingin diperdalam di sini ialah mengenai tindakan kriminal berbentuk pencurian yang amat canggih. Yang dicuri adalah hak publik yang secara curang dan licin diselewengkan untuk kepentingan pribadi. tidak lain adalah korupsi. Kejahatan ini dilakukan secara diam-diam atau tersembunyi dan kejahatannya tidak langsung dirasakan orang lain sehingga sebagian orang tidak peduli dengan tindakan ini, lain hal nya apabila pencuri yang mengambil ayam tetangganya, mungkin sudah babak belur tak terbentuk lagi wajahnya. Atau masih ingat kasus seorang nenek yang dipenjara karena mencuri 3 buah coklat karena kelaparan? Inilah fakta ketimpangan hukum dan sosial yang masih terjadi di negara kita tercinta.
Namun, kita juga tidak akan terus menerus merenungi problematika yang terus berputar seiringan dengan berjalannya waktu. Tak ada waktu lagi untuk duduk terlalu lama. Karena Ibu pertiwi yang begitu kita sayangi begitu merindu akan hentakkan kaki kita, para pemuda nya untuk melakukan perubahan besar. Yang harus disiapkan sesegera mungkin. Saat ini juga! maka, siapkanlah solusi, juga moral tinggi yang bermartabat. kencangkanlah niat dan kerahkan usaha!
Korupsi di Indonesia ibarat pohon yang sudah tertanam kokoh. Jika ingin menumbangkan pohon tersebut dan tidak ingin pohon tersebut tumbuh dan berkembang lagi, maka harus dicabut beserta akar-akarnya. Jadi, jika sementara ini, selalu saja bermunculan tindak korupsi, maka artinya sistem yang dibangun selama ini, memang berpotensi melahirkan mental korup. Sistemlah yang menganak-pinakkan atau yang memproduksi mental korup itu. Tugas kitalah bagaimana membangun sistem secara menyeluruh, agar dengan sistem itu mental korup itu tidak muncul, apalagi tumbuh dan berkembang.
Namun, tidak berhenti di situ karena kebobrokan yang terjadi bukan hanya pada sistem. Kalau hanya itu kita bisa memperbaiki dalam tempo yang singkat. Kita tidak hanya sedang berhadapan dengan sistem yang bobrok, akan tetapi kita berhadapan dengan sebuah peradaban, budaya dan paradigma yang sangat mengkhawatirkan keadaannya. Maka solusi yang kita upayakan adalah solusi cepat dan berarti.
Pergerakan untuk perubahan memerlukan proses penyadaran tiap individu kemudian beranjak ke kelompok. Semua itu memerlukan sarana dan media informasi yang luas dan cepat. Agar nilai-nilai yang ingin kita sampaikan sampai merata keseluruh lapisan masyarakat, dari atas sampai kebawah. Maka penguasaan media infomasi dengan berbagai jenis dan ragamnya menjadi sangat urgent, mendesak dan darurat. Terutama media yang popularitasnya cepat dan luas daya jangkaunya yaitu Televisi. Dan kini Internet juga sudah marak di Indonesia. Di sini kita harus bermain cantik agar yang menguasai arus informasi bukanlah orang-orang yang punya kepentingan pribadi semata.
Bukankah itu membutuhkan modal yang besar? Apakah kita mampu? Lagi-lagi materi dijadikan benturan yang menghambat pergerakan. Pemikiran itulah yang membuat, yang kaya lah yang berkuasa atas segala sesuatnya. Sebenarnya, besarnya biaya tidak akan lagi menjadi persoalan, ketika kita bisa menyamakan persepsi. Sudah terlalu banyak masyarakt berkorban dan mengeluarkan dananya untuk berbagai kegiatan dan aktivitas sosial. Atau berbagai peringatan dan perayaan. Karena tidak sampai kepada pemahaman yang sama mengenai sarana apa yang hari ini sangat mendesak, tidak ada sinergi untuk upaya yang sama sehingga sangat tidak signifikan antara pengorbanan yang dikeluarkan dan dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.
Solusi sederhana selanjutnya ialah, kita butuh figur teladan yang punya prinsip, kuat, tidak mudah mengeluh, tegas, tidak pilih kasih, adil, aspiratif, merakyat, dan 'tawaddhu', yakni tidak gengsi karena jabatan dan kedudukan.
Oleh karena itu, pemuda sebagai generasi penerus mempunya peran yang sangat strategis untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Bukan hanya dibutuhkan intelektualitas yang tinggi, tetapi juga dengan tanggung jawab, kejujuran, dan kemandirian serta rasa optimis.
Dengan tanggung jawab bisa memunculkan rasa memiliki yang utuh sehingga timbul usaha untuk membawa Indonesia lepas dari segala belenggu yang menyesakkan, perlahan-lahan. Dengan kejujuran, kita dapat mengikis kemunafikan dan kecurangan yang terlanjur merambat menghancurkan moral. Ini dapat kita mulai dari hal yang terkecil hingga menjadi suatu kebiasaan yang berkelanjutan pada hal yang besar. Sikap mandiri yang nantinya akan mengantarkan jujur dan tanggung jawab ke kehidupan nyata. Ya, kita tidak boleh berpangku tangan untuk melakukan itu semua.
Dan terakhir, harus optimis. Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealiasasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.

Pemuda ialah sosok superior, progresif, revolusioner dengan api berkobar-kobar, dan bara spirit yang menyala-nyala. Dan katakan, "Akulah pemuda itu!"

Teriakkan bait-bait syair yang bisa menjadi penyulut semangat!
Padamu pewaris negeri, harapan slalu terpatri
Azzam tetap membahana, Hingga terwujudkan janji

Menderas maju nan tiada ragu, Hantam angkara sibakkan gulita
Umat mulia kan menghulu semesta

Melangkah beriringan, Lantakkan kebatilan
Bergerak keharmonian, Tegakkan keadilan

Segala rintangan kan menjadi suratan

Padamu pewaris negeri.
Pewaris negri itu pemuda. Pemuda itu Aku. Ya, Akulah pemuda itu!


Nama : Shafiatur Rasyidah
Jurusan / Kelas : TGP / PB 4B
NIM : 160902058X